Monday, July 11, 2022

LAPORAN AKSI NYATA MODUL 3.3 PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID

 

PEMANFAATAN BARANG BEKAS MENJADI BARANG YANG BERGUNA UNTUK MENINGKATKAN KEPEDULIAN TERHADAP LINGKUNGAN SMP NEGERI 13 SURAKARTA

A.      Peristiwa

                Sampah plastik merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi SMPN 13 Surakarta. Ini dikarenakan selama pembelajaran tatap muka di masa pandemi Covid-19, peserta didik dihimbau untuk membawa bekal dari rumah. Banyak dari mereka membawa bekal air mineral dalam kemasan botol dengan alasan mudah dibuang setelah habis diminum. Mereka enggan membawa tempat minum sendiri karena sering lupa membawa atau ketinggalan sehingga tidak dibawa pulang.

Ketika SMP Negeri 13 Surakarta terpilih sebagai salah satu sekolah penggerak di Surakarta,  tema yang dipilih dalam pelaksanaan proyek penguatan profil pelajar pancasila diantaranya adalah berekayasa dan berteknologi untuk membangun NKRI. Melalui tema ini satuan pendidikan merencanakan proyek yang mendorong peserta didik membuat desain inovatif sederhana dengan menerapkan teknologi yang dapat menjawab permasalahan yang ada di sekitar sekolah. Untuk melaksanakan proyek ini, saya sampaikan kepada peserta didik proyek apa yang akan mereka kerjakan. Melihat kenyataan banyaknya sampah plastik yang ada di sekolah, peserta didik memilih untuk mendaur ulang botol bekas air minum menjadi barang yang bisa digunakan kembali sebagai proyek penguatan profil pelajar pancasila. Setelah dilaksanakan koordinasi antar peserta didik, guru, dan kepala sekolah, akhirnya disepakati bahwa proyek ini akan memanfaatkan botol bekas air minum menjadi barang yang bisa digunakan kembali yaitu menjadi pot tanaman, celengan, dan gantungan lampu. Peserta didik tidak hanya sekedar membuat kerajinan dari botol plastik, namun mereka juga akan belajar menyajikan hasil karya mereka dalam sebuah video tutorial untuk mempresentasikan proses persiapan, pembuatan sampai dengan penyelesaikan daur ulang sampah plastik tersebut menjadi barang yang bisa digunakan kembali.

Tujuan dari program ini adalah:

1.       meningkatkan kepedulian murid terhadap lingkungan sekolah.

2.       memberikan edukasi kepada murid pentingnya menjaga lingkungan agar tetap bersih dan rapi. Selain itu, program ini diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan kepada murid dengan memanfaatkan barang bekas dan mengubahnya menjadi kerajinan yang bermanfaat dan bernilai seni tinggi.

3.       memupuk kepercayaan diri murid berbicara di depan umum atau di depan kamera

4.       melatih keterampilan digital dengan membuat video proses pengolahan barang bekas menjadi barang yang dapat digunakan kembali dan mengupload video di chanel yotube

5.       mengajak murid memiliki keberanian mengemukakan pendapat melalui diskusi untuk menggali ide tentang karya yang akan dibuat, berapa lama waktu yang diperlukan, bagaimana prosesnya, dll. Kepercayaan ini akan menumbuhkan rasa percaya diri yang nantinya berdampak pada munculnya rasa tanggung terhadap tugas yang diberikan.

6.       melaksanakan pembelajaran kolaborasi antar mata pelajaran

         Langkah-langkah yang ditempuh:

1.       melakukan pemetaan terhadap aset yang dimilii dengan memperhatikan manajemen resiko serta sumber daya sekolah yang mendukung kegiatan yang berdampak pada murid

2.       menggali informasi tentang upaya pemanfaatan sampah plastik serta keberhasilan proyek serupa di sekolah lain

3.       mengkomunikasikan rancangan proyek dengan kepala sekolah

4.       berkoordinasi dan berkolaborasi dengan rekan sejawat, membentuk tim pelaksana proyek

5.       mengundang perwakilan kelas untuk mendiskusikan dan menggali ide upaya pengolahan sampah plastik di sekolah

6.       memberikan kesempatan murid untuk menyuarakan pendapat, melaksanakan pilihan dan bertanggung jawab terhadap proyek yang disepakati

7.       melaksanakan evaluasi serta refleksi

 

Kegiatan pemanfaatan barang bekas menjadi barang yang berguna untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan SMP Negeri 13 Surakarta ini memuat 3 aspek kepemimpinan murid yaitu:

1.       Suara (voice)

Pada kegiatan ini banyak menampung ide murid terkait dengan bagaimana mimpi dan harapan mereka terhadap lingkungan sekolah kedepannya. Hal ini diwujudkan dengan adanya wawancara dengan peserta didik dan koordinasi dengan kepala sekolah dan rekan guru.

2.       Pilihan (choice)

Pada kegiatan ini memberikan kesempatan peserta didik untuk memilih dan mengelola ide atau usulan yang didapat dari wawancara dan kemudian diputuskan melalui cara pengambilan keputusan untuk mencapai kesepakatan.

3.       Kepemilikan (ownership)

Melalui kegiatan yang tumbuh dari peserta didik, mereka bertanggung jawab untuk menyelesaikan proyek yang menjadi pilihan mereka bersama.

 

B.      Perasaan

Pada mulanya saya merasa ragu bilamana rencana kegiatan ini dapat berhasi karena melihat usia peserta didik yang masih belia apakah mampu merencanakan, berkoordinasi dan melaksanakan proyek tersebut. Namun kenyataannya, ketika mereka diberikan kebebasan yang bertanggung jawab ternyata mereka mampu melakukannya dengan baik. Proyek ini belum selesai, meskipun begitu usaha dan semangat mereka untuk menyelesaikan dan mensukseskan proyek ini sangat luar biasa dan patut diberikan acungan jempol. Saya merasa senang dan juga bangga atas kerja keras dan upaya mereka. Saya percaya bahwa ketika peserta didik diberikan kepercayaan dan pendampingan pasti akan memperoleh hasil yang luar biasa.

 

C.      Pembelajaran

Pembelajaran dari kegiatan ini adalah jangan menyepelekan kemampuan anak. Kepemimpinan murid dapat dikembangkan dengan cara memberikan kepercayaan kepada peserta didik untuk mengembangkan ide mereka dalam melaksanakan program daur ulang sampah plastik. Selain itu, kegiatan ini mendorong rasa tanggung jawab yang nampak pada semangat mereka menyiapkan dan melaksanakan proyek ini. Meskipun ditemukan hambatan dalam pelaksanaan proyek ini yaitu belum semua peserta didik terampil dalam mengolah botol plastik menjadi pot tanaman, celengan, dan gantungan lampu, masih ada peserta didik yang enggan melaksanakan program tersebut karena merasa tidak bisa, namun hal itu tidak menjadikan peserta didik putus asa. Dengan kerja keras dan semangat kebersamaan, saya yakin kegiatan ini pasti akan berhasil pada akhirnya. Harapannya, kedepan mereka menjadi pribadi yang bertanggung jawab, pantang menyerah, kreatif dan terampil.

 

D.      Penerapan ke Depan

Saya berharap semoga kegiatan ini bisa dilanjutkan sampai selesai dan video yang menyajikan hasil karya mereka sebagai materi untuk mempresentasikan proses persiapan, pembuatan sampai dengan penyelesaikan daur ulang sampah plastik tersebut menjadi barang yang bisa digunakan kembali dapat tersusun dan diupload ke youtube sehingga bisa lebih bermanfaat. Saya juga berharap proyek ini tetap bisa dilakukan sebagai sarana berkolaborasi antar guru mata pelajaran dalam mensukseskan program sekolah penggerak yaitu pembelajaran yang berdampak pada murid.

Dokumentasi


Gambar 1. Koordinasi dengan Kepala Sekolah



Gambar 2. menggali informasi dari rekan sejawat



gambar 3. menggali informasi, koordinasi dan diskudi dengan peserta didik





Gambar 4. Pelaksanaan Proyek
Gambar 5. Refleksi dan evaluasi






Friday, April 22, 2022

PEMIMPIN PEMBELAJARAN SEBAGAI PENGAMBIL KEPUTUSAN

 DEMONSTRASI KONTEKSTUAL-PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

Syalom...

Saya Raditya Wardhani guru Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti SMP Negeri 13 Surakarta, Calon Guru Penggerak Angkatan 4 Kota Surakarta. Saat ini saya sedang melaksanakan Demonstrasi Kontekstual Modul 3.1 materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

 Ada sebuah peribahasa yang mengatakan ‘gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.’ Arti peribahasa itu adalah seorang manusia terutama diingat karena jasa-jasanya atau kesalahannya. Perbuatan kita hari ini akan menjadi sebuah warisan bagi anak-anak kita nantinya. Salomo dalam tulisannya juga mengatakannya ‘orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya...’ Saya menyukai kedua kutipan tersebut karena menjadi pengingat akan apa yang akan saya tinggalkan bagi anak-anak saya jika saya sudah tidak ada lagi. Apa yang akan diingat atasan, rekan sekerja dan peserta didik yang saya layani tentang saya nanti.

Alasan mengikuti program calon guru penggerak ini bukan karena saya bisa, sebaliknya, karena saya sangat tidak bisa maka saya harus belajar. Saya  sadar dunia mengalami perubahan dan saya akan ketinggalan jika tidak mau merubah diri. Seperti halnya gelas yang terisi, jika sudah penuh maka tidak lagi bisa dituangkan air ke dalamnya. Tetapi jika saya melubangi gelas itu, satu saja, maka ketika air dalam gelas tersebut tidak akan penuh karena selalu keluar melalui lubang yang saya buat. Ketika air dalam gelas mulai berkurang,  saya akan bisa menambah air yang baru ke dalam gelas tersebut. Saya ibaratkan diri saya seperti gelas itu, jika saya tidak membagikan atau mentransfer ilmu yang saya miliki maka saya akan berhenti memperoleh ilmu yang baru. Ilmu yang saya miliki juga akan sia-sia jika tidak saya manfaatkan dan aplikasikan dalam kehidupan pekerjaan.

Ilmu yang saya peroleh pada modul ini akan saya transfer kepada rekan guru di SMP Negeri 13 Surakarta, tempat saya melayani sebagai guru Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti dan rekan guru sesama MGMP di Kota Surakarta. Alasannya, agar kami semua dapat optimal dalam melaksanakan tugas melayani peserta didik di sekolah. Kami akan melayani dengan hati, tidak membeda-bedakan dan dapat berlaku adil. Setiap keputusan yang diambil didasarkan pada pertimbangan yang matang demi kepentingan bersama dan peserta didik. Kami akan mengesampingkan kepentingan pribadi dan bersama-sama berkolaborasi memberikan layanan terbaik di sekolah. Saya akan mentransferkannya dengan melakukan diseminasi di depan rekan-rekan guru atau mensharingkannya secara pribadi dengan menceritakan pengalaman serta dampak dari pengambilan keputusan di kelas yang saya ampu.

Materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran akan saya terapkan di kelas yang saya ampu dengan menerapkan 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip dalam pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

Langkah-langkah yang akan saya lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran yaitu:

1.       Menganalisis dan menentukan apakah masalah yang dihadapi termasuk dilema etika atau bujukan moral

2.       Menentukan paradigma apa yang ada pada permasalahan tersebut

3.       Menentukan prinsip yang akan digunakan dalam pengambilan keputusan

4.       Menguji keputusan yang diambil dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan

Langkah-langkah tersebut akan saya lakukan ketika dihadapkan pada permasalahan yang memerlukan pengambilan keputusan yang baik, yang tidak merugikan pihak-pihak yang bersinggungan serta berdampak pada terciptanya lingkungan dan suasana yang tenang, aman dan nyaman.

Meskipun sudah dibekali materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, saya menyadari keterbatasan saya yang tidak bisa melakukan segala sesuatunya seorang sendiri. Saya membutuhkan batuan dari orang lain yang memiliki kompetensi sebagai pemimpin. Orang yang akan saya mintai bantuan untuk mendampingi saya dan menjadi rekan diskusi adalah Kepala Sekolah. Kepala sekolah akan saya minta untuk mendampingi saya dalam menjalankan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Alasannya, sebelum menjadi kepala sekolah, beliau adalah seorang guru juga, saya yakin beliau memiliki pengalaman yang lebih dari saya dan dapat membantu saya dalam mentransfer dan menerapkan materi ini.

Selain kepala sekolah, saya juga akan meminta rekan guru sejawat menjadi partner untuk melatih mengambil keputusan berdasarkan empat paradigma dilema etika, tiga prinsip dilema etika, dan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Kebetulan di SMP Negeri 13 Surakarta selain saya, juga ada satu Calon Guru Penggerak lain yang bisa juga saya mintai tolong untuk berkolaborasi mentransfer materi ini kepada rekan yang lain, merencanakan tindak lanjut serta mengevaluasi praktik pengambilan keputusan yang saya lakukan.

Demikian Demonstrasi Kontekstual Modul 3.1 materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang saya lakukan. Terimakasih.

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

 

-          Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengetahuan terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajarn diambil?

 

Filosofi Pratap Triloka Ki Hadjar Dewantara adalah ‘Ing Ngarso Sung Tuladha (seorang pemimpin harus bisa menjadi teladan dan memberi teladan kepada yang dipimpin), Ing Madyo Mangun Karsa (pemimpin menjadi motivator pembangun karsa, semangat, minat, bakat), Tut Wuri Handayani (dibelakang memberikan dorongan atau dukungan)’. Filosofi Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara tesebut memberikan pengaruh yang besar dalam mengambil keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Menurut Ki Hajar Dewantara pemimpin adalah teladan yang menjadi contoh praktik baik bagi peserta didik, seorang yang mampu membangun karsa, semangat, minat dan bakat peserta didik serta memotivasi dan mendorong mereka mengembangkan potensinya secara maksimal. Dalam mengambil keputusan, guru sebagai pemimpin pembelajaran seharusnya berpegang pada filosofi Pratap Ki Hajar Dewantara. Sebagai teladan/panutan, pemimpin harus mampu menyelesaikan masalah dengan bijaksana serta meminimalisir dampak negatif dari keputusan yang diambil. Upaya pemecahan masalah diharapkan juga mampu membangun kemampuan berpikir kritis sehingga peserta didik tidak hanya mem-beo namun bisa menemukan dan memilik jawaban atas kesulitan yang dialami. Keputusan guru sebagai motivator diharapkan mampu memberi dorongan peserta didik untuk mengembangkan talentanya.

 

-          Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

 

Nilai positif guru penggerak seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid, harus tetap tertanam dan dipegang teguh oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran. Nilai-nilai tersebut membantu guru dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Ketika dihadapkan pada dilema moral atau dilema etika yang menuntut guru mengambil keputusan sulit, nilai-nilai ini menjadi dasar mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana.

 

-          Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

 

Kegiatan terbimbing pada materi pengambilan keputusan erat hubungannya dengan kegiatan coaching. Pendidik perlu memiliki keterampilan coaching supaya dapat menjadi penuntun yang menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) peserta didik supaya mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Pendampingan dengan pendekatan coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan karena dapat membantu peserta didik menjadi lebih merdeka dalam mengeksplorasi diri dan mengoptimalisasikan potensinya guna mencapai tujuan pembelajaran. Pembimbingan oleh pengajar praktif serta fasilitator ditambah penguatan yang dilakukan instruktur membantu saya memahami materi coaching serta mengimplementasikannya dalam praktik baik di kelas.

 

-          Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

 

Dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi sosial emosional seperti kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills). Oleh sebab itu ketika mengambil keputusan, guru melakukannya dengan kesadaran penuh  dengan memperhatikan akibat serta resiko dari keputusannya. Peserta didik yang dilayani di sekolah sangat majemuk sehingga guru sebaiknya mampu memahami keberbedaan mereka sehingga bisa menjembataninya dengan bijaksana melalui pembelajaran berdiferensiasi sebagai contohnya.

 

-          Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

 

Nilai-nilai yang dianut pendidik akan mempengaruhinya dalam mengambil keputusan. Jika nilai yang dianut adalah nilai-nilai positif (mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid), maka keputusan yang diambil tidak akan bersifat egois untuk keinginan diri sendiri melainkan demi kepentingan bersama terutama peserta didik. Tetapi jika nilai yang dianut belum mengandung nilai-nilai positif tersebut, hal itu akan tercermin pada keputusan yang diambil. Keputusan yang egois serta mementingkan diri sendiri.

 

-          Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman ?

 

Pengambilan keputusan yang tepat harus dilakukan dengan cermat dan teliti. Tidak didasarkan pada kepentingan pribadi atau golongan. Sebelum keputusan diambil harus dievaluasi secara akurat apakah termasuk dilema etika ataukan dilema moral supaya dapat menentukan langkah-langkah apa yang akan diambil berikutnya.

 

-          Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

 

Kesulitan yang muncul untuk mengambil keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika salah satunya karena masalah perubahan paradigma di lingkungan sekolah, selain itu juga disebabkan karena budaya menahun yang ada di sekolah. Hal ini berdampak pada keputusan yang diambil seringkali adalah keputusan sepihak untuk kepentingan pribadi atau golongan. Tidak semua warga sekolah memiliki komitmen yang tinggi untuk menjalankan keputusan bersama dan kadang keputusan yang diambil dibicarakan dan melibatkan beberapa orang saja sehingga muncul kasak-kusuk serta ketidakpuasan dari warga sekolah lain yang tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

 

-          Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

 

Keputusan yang diambil guru sebagai pemimpin pembelajaran bermuara pada merdeka belajar. Guru akan mendesain pembelajaran yang berpihak pada murid dengan memilih metode, strategi serta media pembelajaran yang tepat sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Ketika guru sebagai pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid, amak peserta didik akan belajar dengan kreatif, inovatif dan merdeka.

 

-          Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

 

Keputusan yang diambil guru sebagai pemimpin pembelajaran adalah keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid. Pembelajaran yang didesain berpihak pada murid akan mewujudkan peserta didik yang merdeka, kreatif, inovatif dalam mengambil keputusan yang menentukan masa depannya. Dalam mengambil keputusan, guru harus memperhatikan kebutuhan belajar peserta didik untuk menggali dan memaksimalkan potensi peserta didik. keputusan yang diambil guru sebagai pemimpin pembelajaran mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid.

 

-          Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya

 

Pengambilan keputusan adalah keterampilan yang harus dimiliki guru sebagai pemimpin pembelajaran. Guru adalah pemimpin yang menjadi teladan, pembangun karsa serta motivator bagi peserta didik. Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being). Pengambilan keputusan harus dilakukan dengan kesadaran penuh.

Thursday, January 27, 2022

AKSI NYATA BUDAYA POSITIF DI SMP NEGERI 13 SURAKARTA

Oleh: Raditya Wardhani, S.Th., M.Pd.K

CGP Angkatan 4 Kota Surakarta

A.    Latar Belakang

 

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Ki Hadjar Dewantara memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya.  Pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.  Menurut Ki Hadjar Dewantara hakikat pendidikan adalah seluruh daya dan upaya yang dikerahkan secara terpadu untuk memerdekakan aspek lahir dan batin manusia.  Pengajaran dalam pendidikan dimaknai sebagai upaya membebaskan anak didik dari ketidaktahuan serta sikap dengki dan egois.  Menurut Ki Hadjar Dewantara dalam pengajaran harus ditekankan mengenai pendidikan budi pekerti sebagai landasan tiap peserta didik untuk mencapai kemerdekaan sebagai manusia yang dapat memerintah dan menguasai diri sendiri, serta menjadi manusia yang beradab.

Ki Hadjar Dewantara tidak melihat anak sebagai kertas kosong dan guru dengan bebasnya menorehkan warna-warni yang membuatnya indah sesuai keinginan guru. Guru hanyalah fasilitator yang bertugas menuntun anak sesuai kodrat alam yang dimilikinya menurut minat dan bakat anak yang telah dimiliki sejak lahir.

Hal inilah yang melatar belakangi aksi nyata yang akan saya lakukan di kelas dalam menumbuhkan budaya positif di kelas pendidikan Agama Kristen. Saya menyadari peran saya sebagai fasilitator yang mempunyai visi dan misi menuntun siswa mengembangkan minat dan bakatnya sesuai kodrat yang dimiliki anak dengan merancang pembelajaran yang kreatif, inovatif dan menyenangkan. Selain itu, sebagai teladan saya harus dapat menjadi contoh dalam menerapkan kebiasaan-kebiasaan baik di sekolah dan mengajar peserta didik yang saya layani melakukan hal yang sama sehingga menjadi budaya positif di lingkungan kelas dan masyarakat dalam lingkup yang lebih luas.

 

B.     Tujuan Aksi Nyata

 

Tujuan dari aksi nyata membangun budaya positif di kelas ini adalah:

1.      Terciptanya suasana belajar yang kreatif, inovatif dan menyenangkan

2.      Membangun hubungan yang harmonis antara guru dan peserta didik

3.      Melatih kedisiplinan dan tanggung jawab

4.      Menumbuhkan keberanian berpendapat bagi peserta didik

5.      Terciptanya lingkungan belajar yang kondusif

6.      Menumbuhkan rasa saling menghargai dan menghormati

7.      Membiasakan musyawarah untuk mufakat

8.      Membiasakan kebiasaan baik

9.      Tersusunnya kesepakatan kelas

10.  Tersusunnya program pembelajaran selama satu semester

 

C.    Tolok Ukur

Tolok ukur keberhasil aksi nyata ini diantaranya adalah:

1.      Proses belajar mengajar berjalan dengan suasana yang menyenangkan

2.      Peserta didik tidak merasa terpaksa dalam mengikuti pembelajaran

3.      Peserta didik merasa lebih siap mengikuti kegiatan belajar mengajar

4.      Peserta didik bersama guru menjalankan kesepakatan kelas yang dibuat dengan penuh kesadaran

5.      Lingkungan belajar yang aman, nyaman, bersih, rapi dan menyenangkan

6.      Terjalin komunikasi yang aktif dan efektif

 

D.    Linimasa Tindakan yang Dilakukan

 

Linimasa yang saya lakukan dalam aksi nyata membangun budaya positif di kelas ini adalah sebagai berikut:

1.      Meminta ijin dan dukungan dari Kepala Sekolah

 


2.      Menyiapkan lembar kesepakatan kelas

 


3.      Mensosialisasikan kepada peserta didik

 


4.      Peserta didik menuliskan usulan kesepakatan kelas

 









5.      Peserta didik dan guru mengkomunikasikan usulan dan menyepakati usulan yang akan dituliskan di kertas kesepakatan kelas

6.      Peserta didik menuliskan dan menempelkan kesepakatan kelas yang telah disepakati







7.      Peserta didik membuat rancangan program belajar selama satu semester

 








8.      Guru dan peserta didik melaksanakan kesepakatan kelas yang sudah disepakati






9.      Proses belajar mengajar dirancang sesuai dengan jadwal rancangan program belajar

 








E.     Dukungan yang Dibutuhkan

 

Dukungan yang diperlukan demi kelancaran dan keberhasilan sksi nyata ini adalah:

1.      Ijin dan dukungan dari kepala sekolaj

2.      Dukungan dari rekan sesama guru

3.      Dukungan dari orangtua/ wali peserta didik

4.      Keatifan peserta didik

5.      Ketersediaan sarana dan prasaranan

 

F.     Hasil Aksi Nyata

1.      Tersusunnya kesepakatan kelas sesuai yang diharapkan

2.      Guru dan peserta didik melaksanakan kesepakatan kelas yang telah dibuat dengan sepenuh hati

3.      Peserta didik memiliki keberanian dan kepercayaan diri dalam mengemukakan pendapat

4.      Peserta didik mampu bernalar kritis

5.      Peserta didik belajar untuk bertanggung jawab

6.      Peserta didik memiliki kesadaran untuk saling menghargai dan menghormati

 

G.    Rencana Perbaikan

 

1.      Membuat jurnal catatan keberhasilan dan hambatan pelaksanaan budaya positif di kelas

2.      Berkoordinasi dengan atasan langsung tentang keberhasil dan hambatan pelaksana budaya positif di kelas serta

3.      Membuat rencana tindak lanjut

4.      Memotivasi rekan guru untuk bersama-sama melaksanakan budaya positif di kelas dan sekolah

5.      Memotivasi peserta didik untuk bersama-sama melaksanakan budaya positif dalam kehidupan sehari-hari