Friday, April 22, 2022

PEMIMPIN PEMBELAJARAN SEBAGAI PENGAMBIL KEPUTUSAN

 DEMONSTRASI KONTEKSTUAL-PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

Syalom...

Saya Raditya Wardhani guru Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti SMP Negeri 13 Surakarta, Calon Guru Penggerak Angkatan 4 Kota Surakarta. Saat ini saya sedang melaksanakan Demonstrasi Kontekstual Modul 3.1 materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

 Ada sebuah peribahasa yang mengatakan ‘gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.’ Arti peribahasa itu adalah seorang manusia terutama diingat karena jasa-jasanya atau kesalahannya. Perbuatan kita hari ini akan menjadi sebuah warisan bagi anak-anak kita nantinya. Salomo dalam tulisannya juga mengatakannya ‘orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya...’ Saya menyukai kedua kutipan tersebut karena menjadi pengingat akan apa yang akan saya tinggalkan bagi anak-anak saya jika saya sudah tidak ada lagi. Apa yang akan diingat atasan, rekan sekerja dan peserta didik yang saya layani tentang saya nanti.

Alasan mengikuti program calon guru penggerak ini bukan karena saya bisa, sebaliknya, karena saya sangat tidak bisa maka saya harus belajar. Saya  sadar dunia mengalami perubahan dan saya akan ketinggalan jika tidak mau merubah diri. Seperti halnya gelas yang terisi, jika sudah penuh maka tidak lagi bisa dituangkan air ke dalamnya. Tetapi jika saya melubangi gelas itu, satu saja, maka ketika air dalam gelas tersebut tidak akan penuh karena selalu keluar melalui lubang yang saya buat. Ketika air dalam gelas mulai berkurang,  saya akan bisa menambah air yang baru ke dalam gelas tersebut. Saya ibaratkan diri saya seperti gelas itu, jika saya tidak membagikan atau mentransfer ilmu yang saya miliki maka saya akan berhenti memperoleh ilmu yang baru. Ilmu yang saya miliki juga akan sia-sia jika tidak saya manfaatkan dan aplikasikan dalam kehidupan pekerjaan.

Ilmu yang saya peroleh pada modul ini akan saya transfer kepada rekan guru di SMP Negeri 13 Surakarta, tempat saya melayani sebagai guru Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti dan rekan guru sesama MGMP di Kota Surakarta. Alasannya, agar kami semua dapat optimal dalam melaksanakan tugas melayani peserta didik di sekolah. Kami akan melayani dengan hati, tidak membeda-bedakan dan dapat berlaku adil. Setiap keputusan yang diambil didasarkan pada pertimbangan yang matang demi kepentingan bersama dan peserta didik. Kami akan mengesampingkan kepentingan pribadi dan bersama-sama berkolaborasi memberikan layanan terbaik di sekolah. Saya akan mentransferkannya dengan melakukan diseminasi di depan rekan-rekan guru atau mensharingkannya secara pribadi dengan menceritakan pengalaman serta dampak dari pengambilan keputusan di kelas yang saya ampu.

Materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran akan saya terapkan di kelas yang saya ampu dengan menerapkan 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip dalam pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

Langkah-langkah yang akan saya lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran yaitu:

1.       Menganalisis dan menentukan apakah masalah yang dihadapi termasuk dilema etika atau bujukan moral

2.       Menentukan paradigma apa yang ada pada permasalahan tersebut

3.       Menentukan prinsip yang akan digunakan dalam pengambilan keputusan

4.       Menguji keputusan yang diambil dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan

Langkah-langkah tersebut akan saya lakukan ketika dihadapkan pada permasalahan yang memerlukan pengambilan keputusan yang baik, yang tidak merugikan pihak-pihak yang bersinggungan serta berdampak pada terciptanya lingkungan dan suasana yang tenang, aman dan nyaman.

Meskipun sudah dibekali materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, saya menyadari keterbatasan saya yang tidak bisa melakukan segala sesuatunya seorang sendiri. Saya membutuhkan batuan dari orang lain yang memiliki kompetensi sebagai pemimpin. Orang yang akan saya mintai bantuan untuk mendampingi saya dan menjadi rekan diskusi adalah Kepala Sekolah. Kepala sekolah akan saya minta untuk mendampingi saya dalam menjalankan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Alasannya, sebelum menjadi kepala sekolah, beliau adalah seorang guru juga, saya yakin beliau memiliki pengalaman yang lebih dari saya dan dapat membantu saya dalam mentransfer dan menerapkan materi ini.

Selain kepala sekolah, saya juga akan meminta rekan guru sejawat menjadi partner untuk melatih mengambil keputusan berdasarkan empat paradigma dilema etika, tiga prinsip dilema etika, dan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Kebetulan di SMP Negeri 13 Surakarta selain saya, juga ada satu Calon Guru Penggerak lain yang bisa juga saya mintai tolong untuk berkolaborasi mentransfer materi ini kepada rekan yang lain, merencanakan tindak lanjut serta mengevaluasi praktik pengambilan keputusan yang saya lakukan.

Demikian Demonstrasi Kontekstual Modul 3.1 materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran yang saya lakukan. Terimakasih.

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

 

-          Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengetahuan terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajarn diambil?

 

Filosofi Pratap Triloka Ki Hadjar Dewantara adalah ‘Ing Ngarso Sung Tuladha (seorang pemimpin harus bisa menjadi teladan dan memberi teladan kepada yang dipimpin), Ing Madyo Mangun Karsa (pemimpin menjadi motivator pembangun karsa, semangat, minat, bakat), Tut Wuri Handayani (dibelakang memberikan dorongan atau dukungan)’. Filosofi Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara tesebut memberikan pengaruh yang besar dalam mengambil keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Menurut Ki Hajar Dewantara pemimpin adalah teladan yang menjadi contoh praktik baik bagi peserta didik, seorang yang mampu membangun karsa, semangat, minat dan bakat peserta didik serta memotivasi dan mendorong mereka mengembangkan potensinya secara maksimal. Dalam mengambil keputusan, guru sebagai pemimpin pembelajaran seharusnya berpegang pada filosofi Pratap Ki Hajar Dewantara. Sebagai teladan/panutan, pemimpin harus mampu menyelesaikan masalah dengan bijaksana serta meminimalisir dampak negatif dari keputusan yang diambil. Upaya pemecahan masalah diharapkan juga mampu membangun kemampuan berpikir kritis sehingga peserta didik tidak hanya mem-beo namun bisa menemukan dan memilik jawaban atas kesulitan yang dialami. Keputusan guru sebagai motivator diharapkan mampu memberi dorongan peserta didik untuk mengembangkan talentanya.

 

-          Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

 

Nilai positif guru penggerak seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid, harus tetap tertanam dan dipegang teguh oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran. Nilai-nilai tersebut membantu guru dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Ketika dihadapkan pada dilema moral atau dilema etika yang menuntut guru mengambil keputusan sulit, nilai-nilai ini menjadi dasar mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana.

 

-          Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

 

Kegiatan terbimbing pada materi pengambilan keputusan erat hubungannya dengan kegiatan coaching. Pendidik perlu memiliki keterampilan coaching supaya dapat menjadi penuntun yang menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) peserta didik supaya mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat. Pendampingan dengan pendekatan coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan karena dapat membantu peserta didik menjadi lebih merdeka dalam mengeksplorasi diri dan mengoptimalisasikan potensinya guna mencapai tujuan pembelajaran. Pembimbingan oleh pengajar praktif serta fasilitator ditambah penguatan yang dilakukan instruktur membantu saya memahami materi coaching serta mengimplementasikannya dalam praktik baik di kelas.

 

-          Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

 

Dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi sosial emosional seperti kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills). Oleh sebab itu ketika mengambil keputusan, guru melakukannya dengan kesadaran penuh  dengan memperhatikan akibat serta resiko dari keputusannya. Peserta didik yang dilayani di sekolah sangat majemuk sehingga guru sebaiknya mampu memahami keberbedaan mereka sehingga bisa menjembataninya dengan bijaksana melalui pembelajaran berdiferensiasi sebagai contohnya.

 

-          Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

 

Nilai-nilai yang dianut pendidik akan mempengaruhinya dalam mengambil keputusan. Jika nilai yang dianut adalah nilai-nilai positif (mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid), maka keputusan yang diambil tidak akan bersifat egois untuk keinginan diri sendiri melainkan demi kepentingan bersama terutama peserta didik. Tetapi jika nilai yang dianut belum mengandung nilai-nilai positif tersebut, hal itu akan tercermin pada keputusan yang diambil. Keputusan yang egois serta mementingkan diri sendiri.

 

-          Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman ?

 

Pengambilan keputusan yang tepat harus dilakukan dengan cermat dan teliti. Tidak didasarkan pada kepentingan pribadi atau golongan. Sebelum keputusan diambil harus dievaluasi secara akurat apakah termasuk dilema etika ataukan dilema moral supaya dapat menentukan langkah-langkah apa yang akan diambil berikutnya.

 

-          Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

 

Kesulitan yang muncul untuk mengambil keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika salah satunya karena masalah perubahan paradigma di lingkungan sekolah, selain itu juga disebabkan karena budaya menahun yang ada di sekolah. Hal ini berdampak pada keputusan yang diambil seringkali adalah keputusan sepihak untuk kepentingan pribadi atau golongan. Tidak semua warga sekolah memiliki komitmen yang tinggi untuk menjalankan keputusan bersama dan kadang keputusan yang diambil dibicarakan dan melibatkan beberapa orang saja sehingga muncul kasak-kusuk serta ketidakpuasan dari warga sekolah lain yang tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

 

-          Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

 

Keputusan yang diambil guru sebagai pemimpin pembelajaran bermuara pada merdeka belajar. Guru akan mendesain pembelajaran yang berpihak pada murid dengan memilih metode, strategi serta media pembelajaran yang tepat sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Ketika guru sebagai pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid, amak peserta didik akan belajar dengan kreatif, inovatif dan merdeka.

 

-          Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

 

Keputusan yang diambil guru sebagai pemimpin pembelajaran adalah keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid. Pembelajaran yang didesain berpihak pada murid akan mewujudkan peserta didik yang merdeka, kreatif, inovatif dalam mengambil keputusan yang menentukan masa depannya. Dalam mengambil keputusan, guru harus memperhatikan kebutuhan belajar peserta didik untuk menggali dan memaksimalkan potensi peserta didik. keputusan yang diambil guru sebagai pemimpin pembelajaran mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid.

 

-          Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya

 

Pengambilan keputusan adalah keterampilan yang harus dimiliki guru sebagai pemimpin pembelajaran. Guru adalah pemimpin yang menjadi teladan, pembangun karsa serta motivator bagi peserta didik. Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being). Pengambilan keputusan harus dilakukan dengan kesadaran penuh.